Diduga, PDAM Way Rilau Rampok Pelanggan Dengan Modus Mark-Up Meteran Air

0
22

BERITAINDONET.COM, Bandar Lampung: Agus Saprudin (56), warga Kampung Jambu, RT 022 Lk II, Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, menuding PDAM Way Rilau Bandar Lampung telah melakukan “perampokan” terhadap pelanggan, dengan modus melakukan mar-up meteran air. Sehingga terjadi pembengkakan tagihan. Selain dia menjadi korban, ada ribuan bahkan puluhan ribu pelanggan diperlakukan sama.

“Ini perampokan konsumen oleh PDAM, bukan perkara nilai yang kecil, tapi jika dikalikan jumlah konsumen luar biasa angkanya. Fakta lain kesengsaraan Konsumen PADM seperti menjadi kebahagian oknum birokrasi PDAM. Padahal di Perusahaan PDAM terpampang “MOTO” Kepuasan Anda kami bahagia,” kata Agus, Rabu (12/2/ 2020).

Agus menceritakan pada tangal 5 Januari 2020 dirinya mengkomplin PDAM terkait pemakaian air sejumlah 6 M, yang ternya saya harus bayar Rp300.000,- (60 m). Selain itu, dirinya juga masih ada tunggakan 18 m. Padahal sudah lama dirinya tidak menggunakan PAM, pasca dirinya melaporkan kasus kecurangan PDAM tahun 2017 lalu.

Di PDAM, Agus bertemu bapak Mat Talka. Namun dirinya mendapat penjelasan yang menurutnya tidak masuk akal sehat dan sangat tidak logik. Mat Talka mengatakan pipanya bocor hingga 54 m kubik, lah dan berbagai alasan lain. Logikanya jika bocor 54 M kubik air segitu tidak sedikit, “Jika ada yang bocor 54 Kubik, kampung jambu akan banjir dan lebih parahnya lagi saya bulan depan sudah harus bayar 18 M3,” katanya kesal.

“Tentunya sudah sangat diluar akal sehat ini namanya “perampokan terhadap masyarakat, dan lebih sadis dari perampokan biasa. dan apa yang saya alami ini sudah dapat dipastikan juga dialami oleh Konsumen PDAM lainnya. Karena sudah lama saya sudah melakukan investigasi di berbagai masyarakat khususnya konsumen PDAM,” katanya.

Bahkan, kata Agus, dirinya sudah sampaikan bahwa pada tanggal tersebut M3 menunjukan 2235 M. “Sengaja saya kosongkan nanti malam saya baru mau isi. Pada tanggal 08 Februari 2020 saya fhoto menunjukan 2238 artinya distu terlihat adanya pembengkakan 1 M. Bahkansebelum timbul masalahi ini saya sudah pernah laporkan ke Ombudsman RI perwakilan Lampung dengan surat No : 168- BRH/LPG /XI /2017 Surat tertanggal 17 November 2027,” katanya,

Laporan itu terkait dugaan adanya Mal Administrasi yang ditembuskan ke sejumlah Instansi terkait di Bandar Lampung, yang saya lengkapi denga fhoto M3 yang terlihat banyaknya pembengkan dan Fhoto Slip Pembayaran air per bulan Pada Tanggal 18 Desember.

Agus Saprudin juga sudah pernah mendapat surat undangan dari Sub Dit III Ditreskrimsus Polda lampung, surat No :B/27/XII/ 2017 Subdit IIl Ditreskrimsus, pada tanggal 21 Desember 2017, “Dan saya menghadiri undangan dan saya inemberikan keterangan sesuai dengan fakta yang saya alami, Meski sampai saat ini tidak ada kejelasan seakan hilang begitu saja,” katanya.

Ini, bukti Copy Surat Undangan Sub Dit III Polda Lampung Terlampir Akhir Januari 2018. Lalu Agus juga mendapat surat jawaban dari Ombudsman RI perwakilan Lampung dengan surat No :0128/ORI-SRTBDL/XII/2017, Surat tertanggal 12 Desember 2017. “Surat Ombudsman juga aneh bin janggal, pada Intinya Ombudsman menolak Laporan saya, dengan alasan sudah ada penyelesaian dengan pihak terlapor,” katanya.

Namun faktanya tidak pernah ada penjelasan baik dari PDAM maupun dari Polda. “Ombudsman sendiri tidak melampirkan bukti sebagaimana yang dinyatakan dalam surat jawahan tersebut. Copy Surat Jawaban Ombudsman Perwakilan Lampung Terlampir Arti fakta ini membuktikan bahwa masyarakat tidak boleh komplin terhadap apa kebijakan PDAM Way Rilau Bandar Lampung,” ujarnya.

Dan didukung sejumlah instansi yang sudah digaji dengan keringat darah rakyat melalui negara, “Ini sungguh sangat Ironis dan Tragis. Dimana keberadaan idiologi negara yang berbunyi, Keadilan Soslal bagi seluruh Rakyat Indinesia, tapi fakta nya keadilan Sosial hanya untuk penguasa, pengusaha dan pengacara bukan untuk rakyat. Sekalipun sudah diberikan fasilitas dan kesejahteraan para Pejabat digaji dengan keringat darah rakyat melalui negara,” katanya.

Saat ditanya apa keinginan Agus, soal PDAM, dirinya menyatakan bahwa dirinya hanya ingin, semua saluran PDAM di Bandar Lampung, di normalkan. “Saya tidak mau untuk sendiri. Tapi saya ingin semua pelanggan PDAM di perlakukan sama, tidak ada lagi permainan,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan belum adanya konfirmasi dari pihak terkait PDAM. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here