Terduga Pelaku Penganiayaan Pengacara Belum Ditangkap Polres Metro, LP Menjelang Setahun

20
266

BERITAINDONET.COM: Lampung, Pengacara bernama Tri Saputra, asal Lampung mengeluhkan tindakan Kepolisan Polres Metro yang tidak kunjung menangkap para terduga pelaku penganiayaan dirinya. Bekas aniaya yang masih terasa sakit di bagian mata korban membuat perkara tersebut masih terngiang, karena saat kejadian kepala korban bagian samping dibenturkan pelaku ke tembok.

David Sihombing, kuasa hukum korban mengatakan tindakan kepolisian Polres Metro Lampung sepatutnya segera tindak para pelaku, karena korban tidak kunjung sembuh. “Klien kami sebelumnya sehat, karena benturan saat kejadian, korban sering menghapus air mata yang menetes di wajahnya. Kesimpulan saya bahwa aniaya pelaku sangat kejam,” ujar David Sihombing ke beritaindonet.com, Minggu (15/9/2019).

Kuasa Hukum korban menegaskan alasan kuat timnya membela kepentingan korban berhubung satu profesi, dan langkah yang akan dilakukan apabila Polres Metro tidak menganggap kasus tersebut, maka bersama tim akan mengadu ke Mabes Polri dan mencari dukungan seprofesi baik di lampung, Jakarta dan di Provinsi lainnya untuk menggalang dukungan moral atas kejadian yang menimpa penegak hukum, seorang pengacara.

Senada dengan penyampaian korban aniaya, Tri Saputra, yang juga seorang Advokat mengakui dirinya sering  menggunakan obat mengurangi rasa sakit. “Mata saya jadi sakit, pake obat mata terus,” ujar korban saat dihubungi.

Kasat Reskrim Polres Metro, Gigih Andri Putranto, ketika dikonfirmasi Sabtu, (14/9/2019) sekitar pukul 20 WIB, merespon hanya dua suku kata yang disingkat “Sy cek,” jawab Kasat Reskrim Polres Metro via  Whatupp, ketika ditanya perkembangan perkara.

Begitu juga jawaban Kanit Reskrim yang menangani perkara, menjawab akan dicek sama penyidik. Anggota yang pegang berkas bernama Rei saat dihubungi menjelaskan perkara masih tahap lidik, terkait lanjut tidaknya perkara menunggu gelar perkara. “Nanti kembali dikabarkan setelah dilakukan gelar perkara kembali, “jelas Rei.

Sehubungan penjelasan penyidik bernama Rei, David Sihombing menjelaskan pernah menemui penyidik di Polres Metro, Lampung, bahwa perkara mengalami kendala mengingat laporan korban mengenai pengeroyokan (aniaya yang dilakukan lebih dari satu orang), sehingga menurut Rei harus dilakukan laporan ulang atas kejadian laporan penganiyaan.

“Iah benar kata Penyidik ke saya, arah pelaku hanya seorang, jadi lebih baik laporan baru, biar cepat,” tambah David.

Menyambung penjelasan yang diperoleh dari Penyidik, David Sihombing merasa jawaban Penydik sebagai jawaban yang unik, karena tetap saja nama kasus tersebut merupakan penganiyaan. “Namun kami yakin, jika jawaban penyidik kasus itu mengarah pada pelaku satu orang, maka secara hukum harus dilanjutkan, meski laporannya bukan penganiayaan. Polisi bisa kembangkan perkara, apalagi laporan Pengeroyokan satu kwalifikasi dengan penganiyaan,” imbuh David.

Diketahui, perkara bermula Jumat 23 November 2018 sekira pukul 13.15 WIB. Korban bersama kawan-kawannya melaksanakan tugas konfirmasi atas sangkutan hutang dari pihak terduga pelaku yang masih berjumlah cukup banyak. Sehingga ditengah pembicaraan antara Korban dengan para terduga pelaku memuncak amarah, dan Korban bersama temannya dihadang, dan kepala korban dibenturkan ke tembok. Teman korbanpun lari ketakutan, korban sempat tinggal sendirian di lokasi. Karena telat untuk berlari menjauhi para terduga pelaku, korban dibenturkan.

Laporan tidak langsung dibuat di hari kejadian, berhubung korban sempat pusing tidak bisa berfikir, lalu esok harinya membuat Laporan Polisi, dengan  Nomor: LP/374-B/XI/2018/LPG/Res Metro tertanggal 24 November 2018. (R.1) “

20 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here