Terdakwa Subroto Ungkap Tujuan Lengkap Penurunan Batu Dan Sejarah Tanah Hingga Putusan PN

0
96

BERITAINDONET.COM, Lampung: Keterangan Terdakwa Subroto yang diungkap sebagai pemilik tanah TKP menjelaskan dalam sidang pemeriksaan terdakwa yaitu tujuan menurunkan batu dan rentetan kepemilikan tanah. Turut diperiksa bersamaan Terdakwa lainnya yakni David Sihombing seorang Advokat di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Rabu (2/2/2021).

Keterangan terdakwa Subroto menjelaskan tujuan awal batu bongkahan dipesan karena ada rencana pondasi keliling bidang tanah miliknya yang telah dimenangkan Pengadilan. “Saya mau pondasi, itu bukan jalan umum, jalan umum itu jalan Imam Bonjol, TKP benar bisa dilewati kendaraan tapi bukan jalan umum, itu milik saya sesuai putusan pengadilan,” tegasnya di hadapan sidang yang diketuai Hakim Fitri Ramadan didampingi Hakim Hendri sebagai Humas Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang dan anggota lainnya, Hastuti.

Dijelaskan lebih lanjut, terdakwa I/Subroto memperoleh objek tanah tersebut dari yang bernama Machyudin Harun Nasution, ahli waris Residen Pertama Lampung. “Machyudin ialah anak dari Mr. Gele Harun, pendiri Lampung juga sebagai pendiri Yayasan. Saya ada surat jual belinya, seperti girik, segel, saya beli sesuai surat jual beli tahun 2003,” jawab Terdakwa I merespon pertanyaan jaksa Ali dari Kejaksaan Negeri Kota Bandar Lampung.

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika yang mengaku kepala TPR (Tempat Pemungutan Retribusi) di Kemiling membuat Laporan Polisi dengan Nomor: LP/B-1/202/I/2021/LPG/SPKT/Resta Balam, tanggal 22 Januari 2021. Tertera dalam Laporan Polisi Pelapor atas nama Najihun Hanifah, meskipun secara fakta hanya sebagai kuasa Pelapor. Sesuai data berkas, Najihun Hanifah sebagai penerima kuasa melapor polisi, pelapor asli atau pemberi kuasa Pelaporan Polisi bernama Ahmad Husna selaku Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung. Namun hingga sidang terakhir dan mulai dari Kepolisian Pemberi Kuasa melapor ke Polisi belum pernah diperiksa atau hasil pemeriksaan pemberi kuasa tidak ada dalam berkas dan tidak juga dihadirkan dalam sidang.

Yang dilaporkan sesuai Laporan Polisi detail aslinya yaitu “Pelapor pada hari Jumat tanggal 22 Januari 2021, pukul 12.30. Bahwa benar terlapor membawa mobil Truck sebanyak 2 (dua) unit yang berisikan batu besar besar. Selanjutnya batu tersebut dibongkar di tengah jalan umum yang menutupi jalan Imam Bonjol. Selanjutnya Pelapor berkordinasi oleh terlapor namun Terlapor keras kepala dan mengakui terminal Kemiling adalah miliknya. Dengan kejadian tersebut Pelapor melaporkan ke Polresta Bandar Lampung.

Sehingga ada perbedaan yang dilaporkan dengan fakta yang diperiksa dan disidangkan yaitu yang dilaporkan ialah batu menutupi jalan Imam Bonjol, dan David Sihombing bukan sebagai terlapor, namun dalam sidang yang terdengar diperiksa bukan kasus dugaan menutup jalan Imam Bonjol melainkan dugaan menutup jalan Terminal, yakni setelah menikung sekitar 10 meter dari jalan Imam Bonjol. (R.1.1).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here