Sidang Putusan Advokat David Sihombing Dikawal Ketat Polisi, Terdakwa Ajukan Banding

0
104

BERITAINDONET.COM, Bandar Lampung: Terdakwa David Sihombing langsung ajukan banding atas putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Kamis, (22/7/2021). Agenda sidang vonis itu dikawal ketat oleh polisi baik sebelum sidang dan seusai putusan dibacakan.

Diketahui dalam kasus ini ada dua orang terdakwa yaitu David Sihombing selaku advokat dan sebagai Terdakwa II, dan Subroto sebagai terdakwa I yang juga klien Terdakwa II.

Para terdakwa ajukan banding karena tidak terima putusan Majelis Hakim yang menyatakan terbuktinya pasal 192 ke-1 KUHP Jo pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Kedua terdakwa divonis penjara selama 2,5 tahun yang tertuang dalam putusan Nomor: 272/Pid.B/2021/PN.Tjk.

Seusai Putusan, Terdakwa II David Sihombing menyayangkan majelis hakim tidak menjadikan nota pembelaan menjadi landasan mengambil putusan, pada hal tidak mungkin pasal dakwaan itu terbukti berdasarkan fakta sidang. Termasuk dikatakan terbuktinya kasus ini karena masih tanda tanya ada perbedaan isi KUHP antara Majelis Hakim, JPU dan KUHP yang digunakan oleh TIM kuasa hukum dan Terdakwa.

Versi Majelis Hakim yang diketuai oleh Fitri Ramadhan dengan anggota Hendri Irawan dan Hastuti (digantikan oleh Hakim anggota Safrudin saat pembacaan putusan) bahwa pasal 192 KUHP dalam bunyinya ada kata “dapat,” sementara versi tim kuasa hukum sesuai 3 (tiga) buku KUHP yang telah diajukan alat bukti dalam sidang tidak ada kata “dapat” dalam isi pasal tersebut. Menurut Tim Kuasa Hukum Terdakwa termasuk ahli Tri Andrisman yang telah diungkap dalam sidang bahwa pasal 192 KUHP pegangan mereka tidak ada kata “dapat” melainkan harus adanya akibat yang nyata sebagai bukti materil.

Perdebatan isi pasal inilah yang menyelimuti selama proses sidang pembuktian. Versi Jaksa bahwa kasus dugaan penutupan jalan umum terbukti karena bunyi pasal itu “dapat mengakibatkan bahaya bagi lalu lintas umum” Sementara menurut Pihak Terdakwa dan Tim Kuas Hukumnya bahwa berdasarkan pasal 192 ke-1 KUHP yang menjadi dakwaan itu dapat diperjelas artinya dari pasal 192 ke-2 yang isinya “….jika mengakibatkan kematian, maka….”

“Artinya jika pasal 192 ke-2 mengakibatkan kematian, maka pasal 192 Ayat (1) harus ada kecelakaan” disampaikan pihak terdakwa dalam sidang sebelumnya, yang senada dengan penyampaian ahli pidana.

Selain karena perbedaan pemaknaan pasal, pihak terdakwa mengajukan banding karena merasa tidak ada akibat hukum seperti dalam dakwaan yaitu jalan tidak dapat dilalui, termasuk undang undang yang digunakan seharusnya bukan lagi KUHP melainkan undang undang jalan atau undang undang khusus.

“Jalan secara khusus diatur dalam Undang Undang Jalan Nomor:38 Tahun Tahun 2004 Tentang Jalan atau Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Jalan Dan Angkutan Umum, dan termasuk dalam penjelasan pasal 20 undang undang nomor 13 Tahun 1980 tentang jalan (yang telah berubah menjadi undang undang 38 Tahun 2004) dugaan kasus yang persis sama soal batu batu batu besar, bahwa hanya 3 bulan ancaman pidananya, dan itupun undang itu sudah tidak berlaku karena sudah dinyatakan tidak berlaku undang undangnya” ujar David Sihombing usai sidang.

Termasuk kata David Sihombing, yang diperjuangkan ialah bahwa dirinya bukanlah tertangkap tangan melakukan perbuatan pegang barang haram seperti sabu, melain murni menjalankan profesi advokat berdasarkan surat kuasa. “Saya didakwa dan diputus identik pasalnya dengan klien saya atau sama persis pasalnya, pada hal dalam undang undang Advokat bahwa seorang advokat tidak dapat diidentikkan dengan kliennya, ini yang saya perjuangkan” tuturnya sebelum meninggalkan pengadilan. (Parulian S/R.1.1).

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here