Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama: “Label Kafir WNI Yang Ikut Rancang Desain Negara Tidak Cukup Bijaksana”

738
464

BANDUNG (beritaindonet.com): Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama menilai penyebutan “Kafir”  mengandung unsur kekerasan teologis. Sehingga disimpulkan dalam musyawarah, para Kiai menghormati untuk tidak gunakan kata “kafir” tapi ‘Muwathinun‘ atau warga negara. Tujuan perubahan penyebutan itu supaya makna penyebutan status, setara dengan warga negara yang lain

Hadir juga dalam sambutan musyawarah Presiden Jokowi, memberikan sambutan disaksikan Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma’ruf Amin Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Acara didiadakan  di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, (27/ 2/2019)

Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU), mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam. Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, menyampaikan para kiai berpandangan sebutan “kafir” dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.


“Mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘Muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” kata Abdul Moqsith Ghazalidi Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, (28/2/ 2019.

Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim, bukan berarti NU menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis.

“Memberikan label kafir kepada WNI yang ikut merancang desain negara Indonesia rasanya tidak cukup bijaksana,” tandasnya. (R1.1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here