Membuktikan Kasus Sabu 1,2 Kg Semudah Hitungan 1 + 1, Karena Tidak Mungkin Hantu Yang Bawa Tas Berisi Sabu Ke Dalam Ruangan Hotel

0
632

BERITAINDONET.COM, Lampung: Sumber sabu sebanyak 1,2 Kg yang berasal dari kamar hotel Hostel Tango Bandar Lampung sedang diungkap di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Terduga sementara pelaku ialah yang menerima barang itu di pintu kamar hotel. Barang bukti diduga sabu diberikan kepada terdakwa di dalam tas oleh seseorang pemesan kamar hotel.

David Sihombing dan Edi Wahyudin Kuasa Hukum Terdakwa Joni Effendi



Terdakwa mengakui tidak mengetahui isi tas adalah sabu. Terdakwa mengetahui barang yang akan diambilnya dari kamar hotel nomor 3 adalah barang berisi uang dan baju sebagai kiriman istri saudaranya.

David Sihombing kuasa hukum terdakwa mengomentari kasus itu menjelaskan pengungkapan kasus ini bagaikan menjumlahkan 1 + 1 = 2. Dijelaskan poin utama langkah mengungkap kasus itu dari segi waktu atau kapan masuknya barang sabu ke dalam ruangan hotel. “Siapa yang bawa sabu ke kamar hotel itu dan jam berapa masuk sabu itu ? ” tanya David.

KTP YANG DIGUNAKAN PEMESAN HOTEL, PEMESAN HOTEL BERJUMLAH 2 ORANG



Kuasa hukum Terdakwa Joni Effendi ini yakin semua akan terungkap, karena tidak mungkin tidak ada orang yang membawa sabu ke dalam ruangan hotel. “Kan tidak mungkin hantu yang bawa tas berisi sabu ke dalam kamar hotel itu, dan tidak mungkin tidak kelihatan di CCTV barang apa yang dibawa saat pemesan hotel yang menurut keterangan pihak hotel ada dua lelaki,” jelasnya.

Pemikiran lugas disampaikan pengacara Terdakwa bahwa masalahnya bukan soal pembuktian siapa pelaku sebenarnya, melainkan apakah memang sengaja dibuat seperti film penjebakan yang tersistem dan cara yang nyaris sempurna. “Malah yang pernah terbayang dipikiran saya ialah mengenai siapa sutradara peristiwa hukum yang mirip film horor ini ?” Tegas David Sihombing.

Hanya saja menurut David Sihombing perlu menarik ke diri sendiri jika seandainya terjadi pada diri kita diperlakukan hal yang sama. Ditambahkannya, perlu perenungan, karena semua ada akibatnya ke depan dan tidak mungkin berlalu begitu saja jika tidak berdampak pada pembuat sekenario awal. “Keadilan itu tidak ada ukurannya yang menjadi patokan logika matematika, keadilan itu hanya bisa dipahami ketika menarik kediri sendiri membayangkan seandainya kita di posisi yang sama,” imbuhnya.

Sidang terakhir, Selasa (25/8/2020), kuasa hukum terdakwa PNS  Kementrian  PUPR  mengungkap dalam sidang ada dugaan rekayasa kasus, Majelis Hakim yang dipimpin Dina Pelita Asmara memerintahkan Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Tinggi Lampung menghadirkan saksi Verbalisan dan saksi penangkap. Dianggap kasus masih banyak tersimpan teka-teki mengenai siapa pelaku sebenarnya.

Jaksa Penuntut Umumpun bersedia menghadirkan saksi yang diperintahkan oleh Majelis untuk sidang dua minggu kemudian. Dan persidangan akan dilakukan tanpa sidang online atau sidang dengan membawa terdakwa di ruangan sidang dan saksi-saksi saksi akan bersaksi di ruangan sidang.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum mendakwa Joni Effendi dengan dakwaan penyimpan dan perantara narkotika dengan barang bukti Sabu sesuai hasil penangkapan Penyidik. Namun dalam perjalanan kasus ini, pihak terdakwa menjelaskan kronologi yang sebenarnya yaitu bermula ketika terdakwa diajak seseorang yang bernama Miswan alias Iwan yang masih ada hubungan saudara dengan Terdakwa, ia warga Negeri Sakti Pesawaran. Miswan mengajak terdakwa dan menjemput ke Rumah Terdakwa mengambil kiriman saudaranya. Miswan mengajak terdakwa melaju ke Tango Hostel di Sultan Agung Bandar Lampung.

Alasan Miswan ke terdakwa bahwa HP Miswan sering mati sehingga nanti dikontak yang akan kasih kiriman ke HP terdakwa. Setibanya di Hotel itu, Miswan mengatakan agar Terdakwa mengaku dirinya bernama Iwan ketika ada yang menelepon menanyakan Iwan. Setelah dikontak sama seseorang yang tidak dikenal terdakwa, lalu Miswan mengatakan agar mengangkatnya dan mengikuti petunjuknya karena ada paket berisi uang dan baju dari keluarga Miswan untuk diberikan kepada Istri Miswan. Penelepon pun menyuruh terdakwa agar naik ke lantai atas ke kamar hotel nomor 3 dan posisi Miswan ada dibawah, lantai satu.

Ternyata di kamar hotel itu ada seseorang menyerahkan tas warna coklat yang mengatakan itu barangnya. Lalu terdakwa menanyakan mana uang dan bajunya. Jawab orang yang ada dalam hotel itu, itu ambil. Setelah terdakwa turun dari kamar hotel nomor 3, terdakwa melihat Miswan dikerumuni banyak orang dan Polisi, salah satu yang kerumuni merupakan orang yang kasihkan tas di dalam hotel itu yang diduga berisi sabu 1,2 kg. Terdakwa sempat heran mengapa Miswan dikerumuni banyak orang. Tak lama setelahnya, Terdakwa langsung ditangkap, matanya di lakban, namun Miswan serta motornya dengan cepat tidak kelihatan. (R.1.1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here