Konspirasi Jaksa Dennie Dikonfirmasi, Darussalam Tak Kunjung Dilimpah, Terungkap Dalam Sidang Bisa Jadi Pelaku Utama

0
259

BERITAINDONET.COM, Bandar Lampung: Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum), Dennie Sagita dikonfirmasi atas pemberitaan media terkait ganjalan P.21 akibat konpirasi Kasipidum. Pasalnya Sikakek tua yang sudah lansia (umur 72 tahun) bernama M.Syaleh sudah sidang perdana di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Selasa (24/11/2020) sementara tersangka Darussalam masuk dalam satu laporan Polisi dijadikan tersangka seperti pasal Terdakwa M. Syaleh namun Darussalam belum P.21/berkas lengkap.

Terdakwa M. Syaleh, Umur 72 Tahun, Tersangka Dalam 1 Laporan Polisi bersama Darusslam, Namun Darussalam Kasusnya Belum Sidang meskipun Tersangka Darussalam masih tergolong muda. Kakek Tua ini meski sudah tidak jelas Penglihatan tetap ditahan penegak hukum

Darussalam, masuk dalam satu Laporan Polisi dan telah ditetapkan Tersangka bersama Kakek Tua Yang Sudah Kurang Pendengaran dan tergolong kurang Penglihatan / M.Syaleh, Namun Penegak Hukum Belum Melimpahkan Kasusnya

Hingga sidang perdana Terdakwa M. Syaleh Selasa, (24/11/2020), masih terpublikasi dalam media online nawacitapost.com, dengan judul “Tersangka Darusalam Diduga Terganjal Konspirasi Penegak Hukum,” lalu Kasipidum Dennie diminta konfirmasi, tetapi tidak memberikan jawaban sama sekali atau bungkam.  

Hal yang berhubungan dengan dugaan konspirasi Kasipidum Bandar Lampung Dennie Sagita terungkap fakta sidang perdana Terdakwa M. Syaleh, Kuasa Hukum M. Syaleh mengajukan Pelaksanaan sidang secara offline dengan alasan ada pelaku tak terduga bernama Darussalam yang masih belum disidangkan dan bahkan belum P.21. “Yang Mulia, ada pelaku terduga, yang bisa sebagai pelaku tak terduga, sehingga mohon pemeriksaan dilakukan dalam ruangan sidang,” ujar David Sihombing di muka sidang. David Sihombing juga mengungkap bahwa Kejaksan Negeri dan Polresta Bandar Lampung bisa jelas menciderai rasa keadilan buat M. Syaleh, karena M. Syaleh sudah menjalani sidang perdana, namun Tersangka lain yakni Darussalam tidak kunjung masuk pelimpahan Pengadilan. “Pelapornya satu, Nomor Laporan Polisi satu untuk dua tersangka Yakni M. Syaleh dan Darussalam, arti keadilan dalam tingkat penyidikan/masih dalam tahap di Kepolisian dan dan Kejaksaan ialah persamaan menjalani proses yang sama, apalagi kedua orang itu pernah statusnya sama sebagai tersangka, saya meminta Polresta Bandar Lampung dan Kejaksaan agar jangan menciderai rasa keadilan,” pesan David mengungkap tujuan permohonan yang diajukan dalam sidang.  

M. SYALEH dilimpah ke Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang 19 November 2020, tidak bersama Terduga pelaku lainnya yang sudah tersangka. Perkara Terdakwa dengan Nomor: 1374/Pid.B/2020/PN Tjk yang diajukan Jaksa ALEX SANDER MIRZA dari kejaksaan Negeri Kota Bandar Lampung dengan rencana dakwaan Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP.

Sebelumnya diberitakan, atas nama Kepala Kejaksaan Negeri/Yusna Adia, salah satu jaksa sangat cerdas dan terbaik nasional, telah pernah memberikan petunjuk kepada polresta Bandar Lampung yang melibatkan Darussalam. Petunjuk Kepala Kejaksaan Negeri Tersebut berdasarkan fakta hukum dalam pemeriksaan. 

Ada 4 poin penting yang disampaikan kepada Penyidik Polresta Bandar Lampung. Petunjuk pertama  H.Nuryadin/Pelapor pada point 06 tanggal 8 Mel 2020 yang pada pokoknya menyatakan bahwa laporan korban tertarik pada bisnis yang ditawarkan oleh H. DARUSSALAM, SH Bin DAHLAN tersebut karena setelah mendengar keterangan H. DARUSSALAM, SH Bin DAHLAN melalui telpon tersebut yang kemudian kemudian dengan pertemuan dirumah korban. Yang kedua bahwa Sudiono pada point 07 tanggal O8 Mei 2020 yang pada pokoknya saksi H. Darussalam dan tersangka selalu datang ke kediaman saksi korban bersama saksi juga memantau untuk menjadi saksi dalam penyerahan uang dari saksi korban kepada saksi H. Darussalam dan tersangka sebesar Rp125.000.000 (seratus dua puluh lima juta rupiah) pada tanggal 09 september 2014 dan Rp. 375.000.000 (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah) pada tanggal 12 September 2014 yang bertempat di kediaman korban

Hal lainnya yang disampaikan Kejaksaan kepada Penyidik ​​bahwa M. Basyaruddin pada point 07 tanggal 08 mei 2020 yang pada pokoknya dilihat dari ahwa saksi H.Darussalam dan tersangka selalu datang ke kediaman saksi korban bersama saksi juga menonton untuk menjadi saksi dalam penyerahan uang dari saksi korban kepada saksi/Pelapor dan tersangka sebesar Rp125.000.000,- tanggal 09 september 2014 dan Rp. 375.000.000 (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah) pada tanggal 12 September 2014 yang bertempat di kediaman korban.

Termasuk Jaksa menyampaikan kepada Polresta Bandar Lampung bahwa H.Darussalam dalam BAP tanggal 13 Mei 2020 pada poin 09.12 dan 13 yang pada pokoknya menjelaskan bahwa saksilah yang menghubungi sale korban dan menawarkan hingga meyakinkan korban perihal peminjaman uang tersebut juga yang mengenalkan tersangka dengan saksi korban. Sehingga menurut jaksa populer sekarang mantan Kepala Kejaksaan Negeri/Yusna Adia bahwa berdasarkan alat Bukti Keterangan 1,2,3 dan 1 dan Ahli Tri Andrisman serta Surat berupa Kuasa No. 16 tanggal 20 Januari 2014 dari tersangka / M.Saleh kepada H.Darussalam dan Dodi Wahyudi yang disahkan oleh Notaris Akhmadi Dahlan yang saling bersesuaian.Alhasil atas nama kepala Kejaksaan Negeri meminta agar penyidik ​​menerbitkan Surat Perintah Penyidikan terhadap saksi H. Darussalam dengan sangkaan turut serta melakukan perbuatan pidana pasal 378 KUHPidana yakni Dengan tipu muslihat atau rangkalan kebohongan Menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu barang. Dan kemudian setelah dilengkapi sesuai dengan petunjuk di atas agar segera disampaikan Kejaksaan Negeri Kota Bandar Lampung.

Perkembangan terakhir tertanggal 13 November 2020, sesuai SP2HP dari Penyidik ​​kepada Korban, Tindakan Kepolisian yang akan dilakukan dalam angka 4 SP2HP penyidik ​​memenuhi petunjuk dari Kejakasaan Negeri Kota Bandar Lampung serta mengirimkan Kembali berkas tersangka Darussalam ke Kejaksaan. “Kepolisian dalam hal ini Polresta Bandar Lampung, selayaknya menjalani petunjuk atas nama kepala kejaksaan, jika tidak kalian para media bisa menilai, jika tidak bisa banyak tudingan, tetapi kita harus tetap hormat pada polisi, karena mereka wakil negara,” ujar David Sihombing.   

Diketahui pasal turut serta sesuai KUHP diatur dalam pasal 55 KUHP: (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana: 1. Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan, atau melakukan perbuatan itu; 2. Orang yang memberi, memberi, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Kasus ini bermula dari Laporan Polisi Nomor: LP / B / 405 / II / 2020 / LPG / Resta Balam tertanggal 18 Februari 2020. Dilaporkan karena menurut pihak korban, para Terlapor telah diduga membuat janji bohong dan penggunaan uang tidak pada peruntukan, dengan menerima uang dari korban untuk pembuatan sporadik sesuai dengan penerimaan tanda penerimaan uang 09 September 2014 dan 12 September 2014. Objek tanah yang dijanjiakan dibuat sporadik yakni 16 hektar atas objek tanah di Jalan Yossudarso RT: 01, RW: 01, Kelurahan Bumi Waras, Teluk Betung Selatan-Kota Bandar Lampung. (R.1.1).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here