Kejati Lampung Dipertanyakan Kasus Pemalsuan Nilai Rp100 Miliar Uang Negara, Yang Harusnya Sudah P21, Belum Direspon

1
93

BERITAINDONET.COM: Lampung,  Kejaksaan Tinggi Lampung belum memberikan tanggapan atas kasus pemalsuan surat tanah yang sedang diteliti, karena sesuai hukum dianggap kasus itu harus telah P21, mengingat pelimpahan berkas berkara dari Polda Lampung ke Kejaksaan Tinggi Lampung sudah pernah melebihi 14 hari, penyidikan dianggap telah selesai atau P21. Namun hingga kini, berkas Tersangka Pemalsuan Nilai Rp100 Miliar Uang Negara tidak kunjung dinyatakan lengkap oleh Jaksa, meski berulangkali berkas tersebut diajukan oleh Penyidik.

Berkas perkara tersangka dari Polda Lampung pernah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Lampung pada 28 Januari 2019 dan hingga 14 Februari 2019 berkas tersebut belum dikembalikan ke Polda Lampung, akan tetapi kabar dari Jaksa ke para korban masih belum diperoleh kapan akan dilakukan rentut dan rencana pelimpahan perkara ke Pengadilan.

Menurut David Sihombing, kuasa hukum Suwardi Ibrahim korban pemalsuan surat, mengatakan hal mustahil jaksa melompati pasal. Apalagi jaksa yang meneliti perkara adalah jaksa senior dan mapan. David mengatakan sesuai Pasal 110 Ayat (4) KUHAP berbunyi: Penyidikan dianggap telah selesai apabila dalam waktu empat belas hari penuntut umum tidak mengembalikan hasil penyidikan.

“Tanya saja jaksa itu, seharusnya diyakini dah ada surat P21-nya, hanya saja mungkin di kepolisian ada kesulitan untuk menangkapnya, karena tersangka itu pernah beralasan sakit untuk tidak ditahan, tapi masih memimpin rapat pencairan baru-baru ini, dan menandatangani berkas aliran dana dengan menggunakan surat barang bukti  palsu yang dalam perjalanannya dikaitkan dengan seorang Jaksa bernama Dicky Zaruddin “ ujar David Sihombing, Jumat (27/9/2019).

Ketika ditanyakan kepada David Sihombing mengenai apakah ada kemungkinan Jaksa sudah menerima uang dari tersangka agar perkaranya di 86 (diselesaikan diam-diam) oleh para oknum, David menjawab sedikit kemungkinan, karena hukumnya sudah jelas sesuai Pasal 110 Ayat (4) KUHAP yang haram untuk dilanggar.

“Jika bicara kemungkinan, semua bisa terjadi, kasus ini sudah tercium sampai ke atas, jadi ngeri kasus ini jika masih dimainkan, ini bicara uang negara “ ujar David.

David yakin, karena jaksa peneliti perkara merupakan jaksa senior dan tergolong pintar bernama, maka  kepintaran itu biasanya sebagai bukti keberanian seseorang, termasuk kesadaran bahwa hukum adalah panglima.

Nikson Lubis, salah satu petinggi Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Lampung saat dikonfirmasi Via WhatsApp, Jumat (27/9/2019)  mengenai apakah berkas tersangka dari Polda Lampung pernah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Lampung pada 28 Januari 2019 dan hingga 14 Februari 2019 berkas tersebut belum dikembalikan ke Polda Lampung, tidak ada respon

Seperti diketahui, sebelumnya, mantan Dirreskrimum Polda Lampung Kombespol Bobby Marpaung mengatakan pihaknya telah menetapkan Kaderi sebagai tersangka dan telah memperoleh bukti cukup, namun, kata Bobby, alasan Kades tak ditahan karena kondisi tersangka dalam keadaan sakit, sehingga meminta keringanan agar tidak ditahan.

Di awal mula rencana penetapan tersangka diteliti telah membuat surat surat yang diduga palsu, yakni posisi sebagai Lurah menandatangani surat jual beli tanah yang telah dan akan diganti oleh Pemerintah pada proyek Bendungan di Lampung Timur, yang terletak di Desa Sumberrejo, Kecamatan Wawai Karya, lampung Timur. Tersangka sebagai lurah dianggap cukup nakal dan diduga bekerja sama dengan para oknum lainnya yang bermain dibelakang, demi rupiah bernilai seratusan miliar.

Bukti-bukti perbuatan tersangka tersebut telah disita Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang dengan Penetapan Nomor: 1437/Pen. Pid/2018/PN. Tjk. Penetapan Pengadilan atas Penyitaan tersebut setelah menerima barang bukti dari Polda Lampung tertanggal 21 November 2018.

Akibat perbuatan tersangka, para korban menjadi kehilangan/rentan kehilangan  hak, jika tidak segera diantisipasi, mengingat surat pemilik lahan yang sebenarnya: salah satunya Suwardi Ibrahim telah ada persetujuan Badan Pertanahan Nasional meluluskan pemberian hak milik hak atas tanah, yang ditandatangani oleh panitia pemeriksa tanah dari Badan Pertanahan Nasional seperti Staf Seksi Pengukuran Hak-hak Atas Tanah oleh bapak Olich Solichin, Staf Seksi Pengukuran dan Pendaftaran Tanah oleh Kamaruzzaman, Staf Seksi Pengaturan Pengusaan Tanah oleh Suparno, Staf Seksi Penatagunaan Tanah oleh Sodjak Wiryanata, Kepala Desa Sumber Rejo oleh Abdul Manaf, dan Yuli Hardi selaku Staf Sub Seksi Pengurusan Hak-Hak Atas tanah (R1.1)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here