Jurang Sosial Media Pada Era Pilwakot Bandar Lampung

0
148

BERITAINDONET.COM, Opini : Pagi ini, kegiatan di era tahun 2020  tidak terlepas dari namanya, bangun tidur ku terus buka HP tanpa lupa swipe instastories. Berbeda dengan lagu anak kecil pada era 2000-an awal, semua orang di era sekarang ini tentu harus melek dengan segudang peluang yang ada pada Social Media, mengingat di balik kelebihan selalu diikuti sebuah kekurangan yang menjadi hukum alam.


Afta Riski, S.H, Pimpinan Redaksi beritaindonet.com

Sebuah fenomena yang menjadi hal yang menggelitik pada saat ini adalah di tengah banyaknya para penggiat muda dalam bidang kreatif dan teknologi yang melakukan proses yang masif guna menyelesaikan permasalahan di masyarakat, namun di ranah politik yang memegang kebijakan khususnya di ranah politik praktis sebagai pilar atau awal mulanya orang yang akan memegang posisi untuk memberikan suatu kebijakan guna menentukan kemajuan atau kemunduran suatu daerah atau  bangsa kemudian pada saat ini sedang sibuk mencari ‘masalah’ mereka sendiri di dunia maya. 

Adanya teknologi sosial media, mereka tidak henti-hentinya baik kubu oposisi maupun petahana selalu ingin menghadirkan hal kontraversial yang terkadang tidak perlu adanya, hal yang terdekat itu mulai dari hoaxyang memiliki efek ‘supernova’, hingga kegiatan salah paham pembakaran suatu benda tertentu yang mengisyaratkan suatu kelompok agama dan penganutnya menjadi sumber panen ladang emosi yang tiada hentinya, yang mana setiap hal tersebut dikaitkan dan dikembalikan kepada hal yang sangat berbeda jauh yaitu kepentingan politik. 

Di mana perlu diingat dengan adanya dan penggunaan sosial media, suatu berita buruk yang disebarkan tentu akan mengganggu ekosistem informasi yang diterima masyarakat secara luas, mengingat sekarang pemegang atau pengguna sosial media tidak bisa ditentukan dan dibatasi secara pasti usia yang seharusnya melihat. Meski adanya sistem pembatasan konten dengan unsur tertentu melalui usia batas 18 ke atas, tapi paham politik serta proses kampanye yang sedang berjalan ini sebenarnya juga melakukan perusakan moral ‘dini’ maupun konsep berpikir dimana semestinya orang di usia belia bisa fokus terhadap jenjang prestasi dari akademik maupun non-akademik mereka, lalu harus di usia belia mereka menyatakan mendukung salah satu pasangan calon wali kota  Bandar Lampung ,yang menyakinkan diri ,bahkan mengetahui utang angaran daerah hingga saling serang satu sama yang Laen untuk menjatuhkan calon lawanya  dan hal lain yang tentunya sebuah kritikan juga bagi petahana bagaimana mengelola informasi yang semestinya dan menyampaikan sebaiknya.

Sikap yang perlu digaris bawahi pada saat ini adalah, kegiatan menyeleksi konten sudah lagi tidak bisa efektif, mengingat adanya peninggalan jejak digital yang berdampak timbulnya refrensi konten tertentu di beberapa sosial media. Salah satu contohnya, melihat konten pencarian di instagram, kadang kita yang mungkin tidak tertarik pada suatu bahasan tertentu, misal dalam hal ini politik bisa mengetahui konten tersebut dengan hanya tersambung akibat dari salah satu relasi atau user lain baik yang kita follow, tertarik, dan sempat kunjungi beberapa kali melakukan kegiatan like, comment atau sekedar melihat, bisa masuk dalam kolom pencarian kita di instagram. 

Namun, penulis sangat fokus kepada bagaimana melihat fenomena mudahnya informasi hoax mudah tersebar dan menyulut emosi para pengguna internet (netizen) di indonesia ini yang belum bisa mengatur emosinya dalam menggunakan kolom komentar dan melihatkan ilmu yang mereka bawa, atau terkadang kita sebutnya para kaum ‘asal bunyi’ dan ‘sumbu pendek’. Hal ini tentunya tidak bisa dianggap sepele, mengingat apa yang terjadi dilingkungan sekitar tentu akan mempengaruhi pembentukan karakter yang ada pada diri seseorang, dan merupakan hukum alam.

Jadi jangan salahkan nanti jika kita membiarkan budaya buruk ini yang mungkin pada saat ini masih sebatas di dunia maya, bisa merambah ke sistem bagaimana generasi selanjutnya maupun orang-orang didekat kita akan menjadi memiliki pola pemikiran yang terbentuk oleh kebiasan-kebiasan buruk tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas, penulis ingin menyampaikan hal-hal singkat yang perlu atau mulai digalakkan kepada pengguna media sosial serta internet pada umumnya untuk mengingat, beberapa hal yang perlu ditanamkan dalam benak pikiran pembaca guna menciptakan berkegiatan sosial media ‘ceria’, yaitu :

Perbedaan adalah hal wajar ialah dimana kita temui beberapa orang atau golongan tertentu sebagai pengguna internet di Indonesia akan merasa geram jika ada kubu yang berbeda pendapat dengan mereka, kemudian dengan sadar maupun sudah direncanakan, menciptakan kegiatan membenci atau menjauhi kelompok tertentu. (Penulis: Afta Riski ,S.H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here