Jaksa Berlanjut Merintih Menangis Bersama Istri Terdakwa Usai Bacakan Replik Jawaban Pembelaan Kuasa Hukum

0
705

BERITAINDONET.COM, Lampung: Sidang lanjutan perkara Terdakwa Joni Effendi kasus sidang sabu 1,2 Kg, Kamis 17 September 2020 menjadi momen unik. Pasalnya Jaksa penuntut umum Maranita dari Kejaksaan Tinggi Lampung mengeluarkan suara terisak-isak sembari membacakan replik sebagai tanggapan pembelaan kuasa Hukum David Sihombing dan Edi Wahyudin Selasa 15 September 2020 di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang.

Dalam sidang yang dipimpin hakim Dina Pelita Asmara, nada suara sedih Jaksa Penuntut Umum disaat membacakan poin-poin Nota Pembelaan (Pledoi) yang dibuat Tim Penasehat Hukum Terdakwa JONI EFENDI PASIWARATU Bin YUNAN yang pada pokoknya menyatakan bahwa:

  1. Fakta sidang tidak mengungkap sama sekali peristiwa dalam dakwaan halaman 1 terkait kronologi dugaan perbuatan terdakwa, dakwaan malah menyebutkan mengambil sabu dari suruhan Firman (DPO), terungkap dalam sidang polisi yang menyerahkan tas dan pemesanan kamar hotel tempat shabu, yang mana isi dari tas tersebut itu ternyata diduga sabu dan tidak diketahui terdakwa (jaksa telah hampir berhasil menipu Majelis Hakim).
  2. Barang Bukti sudah musnah sebelum P-21, bagaimana mendakwanya lagi tidak pernah diketahui jaksa apa barang buktinya ?
  3. Kronologi yang benar sesuai keterangan terdakwa dan diperjelas dengan tulisan tangan terdakwa.
  4. Saksi verbalisan Biptu NS. Riyanda Mukti, S.Kep mengatakan barang bukti perkara a quo adalah barang bukti DPO, dan saksi mengatakan tidak mengetahui adanya DPO selain Siswanto.
  5. DPO polda adalah Siswanto dan dilepas saat penangkapan terdakwa, dengan alasan saksi penangkapan di Pengadilan tidak kenal dan alasan penyamaran sembari jaga sabu setengah hari dari pesan hotel, penyamaran tapi pegang pegang shabu.
  6. Sebenarnya pelaku kasus jelas, bukan terdakwa melainkan DPO bekerjasama dengan oknum dalam mencari kambing hitam, yang dapat dilihat dari siapa pemesan kamar hotel tempat saabu, dan saksi penangkap mengakui benar akun Instagram istrinya yang mengirim DM (Direct Message) pengakuan pemesanan kamar hotel sumber sabu, sehingga terdakwa yang tidak mengetahui masalah tersebut ini harus dibebaskan.

“Saat pembacaan, Jaksa meneteskan air mata, laju saya sedih juga ngeliat bu Maranita ngeliat Joni saya (Terdakwa), saya berfikir berarti Ibu jaksa ini tahu suami saya tidak salah, setelah selesai baca saya tidak sadar ternyata jilbab saya sudah dibasahi air mata saya,” ucap Fitriani istri terdakwa kepada beritaindonet.com usai sidang sembari tertunduk menangis. Ia juga yakin, suaminya hanya korban kezoliman.  

Ternyata, seusai sidangpun ada pertemuan diantara Jaksa yang sedang mengandung dan istri Terdakwa, saat keluar pintu ruangan sidang, mereka berdua bicara, maranita ucapkan perkataan kepada Fitriyani “Beban bagi saya beban untuk kasus Joni, kalau bisa mundur mundur saya bu demi Allah,”  ucapnya sembari melangkahkan kakinya diiringi linangan air mata. Ibu hamil dengan usia kehamilan 8 bulan ini terlihat tidak mau berdosa atas kejadian yang menimpa Terdakwa yang masih tulang punggung keluarga.

Sebagai jawaban atas tangisan Jaksa, Fitriyani utarakan bahwa keadilan dari Sang Pencipta, “Hanya Alloh keadilan saya ibu,” jawab Istri Terdakwa sembari menatap tertuju pada wajah Jaksa Maranita dengan langkah arah keluar Pengadilan bersama Terdakwa Joni Effendi.

JPU menungkapkan juga semua demi tugas dengan menuntut Terdakwa; Yang mana Terdakwa dituntut 15 Tahun Penjara sesuai pasal 112 Ayat (2) Undang-Undang  Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Sebelumnya, dalam pembelaan terdakwa juga disebutkan barang bukti HP yang ditunjukkan jaksa dalam sidang bukan HP terdakwa, melainkan HP DPO: Ada dua HP yang dibawa-bawa Jaksa dalam sidang sebagai barang bukti dalam kasus ini yang nota bene adalah sumber informasi ditemukannya terduga sabu (BB siluman), akan tetapi dalam dakwaan dan surat tuntutan malah Terdakwa yang telponan, namun HP terdakwa tidak pernah diperlihatkan dalam sidang;

Termasuk diungkap dalam pembelaan Firman (DPO), tapi DPO nya ada di Lapas Bandar Lampung: Jaksa sengaja tidak menghadirkan Firman dalam sidang, pada hal mengetahui ada dimana siapa Pelaku sebenarnya. Jaksa takut kasus ini terungkap karena memang bukan terdakwa Pelakunya. Terdakwaa adalah orang baik yang mau berangkat kerja diminta tolong, dan masih pakai baju Dinas PUPR (Warna Putih) saat itu;

“Bagaimana mungkin terjadi Percakapan tidak ada yang bicara dan sumbernya, termasuk alat bicara: Karena saksi baik dari Jaksa Penuntut Umum tidak pernah mengatakan seperti yang ada dalam dakwaan sama sekali; Jaksa melindungi DPO, karena mengetahui Firman ada dimana tetapi tidak ditangkap dan dihadirkan dalam sidang, Jaksa harus dipenjara, karena mengetahui tetapi tidak melaporkan,” ucap kuasa hukum Terdakwa saat pembacaan Pembelaan. (R.1.1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here