HAKIM HUKUM DUNIA INI TAK DAPAT PUTUSKAN KEADILAN YANG HAKIKI, NAMUN HANYA DAPAT MENULISKANNYA (by: David Sihombing)

0
118

BERITAINDONET.COM, Pendapat Hukum: Sering kali masalah keadilan menjadi perdebatan. Perdebatan itu dilakukan para pencari keadilan dan kuasa pencari keadilan, termasuk pemerintah. Keadilan sulit dianalisis karena dampak hukum yang dialami tidak seperti harapan masing-masing.

Alhasil, dilakukan analisa untuk mengetahui dan memahami dari mana keadilan itu berasal, dan apa sebenarnya keadilan itu sesuai praktek dan teori.

Alat analis yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah logika, hal logis adalah parameter analisis; Tanpa logika maka hukumpun tanpa arah, dan akan sulit untuk diterima. Dalam tulisan ini Putusan Hakim menjadi objek logika berfikir karena semua perkara hanya dapat ditentukan keadilannya setelah hakim menyusunnya dalam bentuk putusan, dan istilah keadilan merupakan istilah praktek hukum peradilan.

PERTAMA, apakah pernah berfikir “Mengapa judul putusan pengadilan bertuliskan ‘DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA’ TETAPI MASIH ADA UPAYA HUKUM BAIK ITU BANDING HINGGA KASASI, ATAU MINIMAL 3 (TIGA) KALI PROSES TINGKATAN SEBELUM EKSEKUSI” Hal ini memunculkan kesan bahwa keadilan berdasarkan Ketuhanan namun masih dapat dinyatakan salah dan dibatalkan di upaya lanjutan seperti banding. Solusi berfikirnya dapat dijawab: “Karena Hakim Tidak Dapat Membuat Keadilan Hakiki Dari Perdebatan Para Pihak”

Jadi pertanyaannya: Dari mana sumber keadilan itu ? Keadilan yang mana yang paling hakiki yang tercermin dalam putusan ?

Sisi berfikir berbeda menyatakan bahwa Putusan Pengadilan Hukum yang memutus pokok perkara bukanlah langkah teradil untuk para pihak yang yang berperkara. Mengapa demikian ? Sebagai contoh, satu pihak mengajukan gugatan di Pengadilan menggugat pihak lainnya, maka yang dilakukan PERTAMA SEKALI oleh pengadilan yakni memfasilitasi kedua belah pihak menempuh jalan damai. Jika para pihak menemukan jalan damai saat proses mediasi, maka hasil kesepakatan kedua belah pihak dibuat dalam akta pengadilan dan dimasukkan dalam putusan NAMUN ISINYA TETAP DENGAN JUDUL “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” DAN TANPA MENAMBAH ATAU MENGUBAH MAKNA DI DALAMNYA, HAL PENTING IALAH BAHWA HAKIM TIDAK DAPAT MENGUBAH ISI PERDAMAIAN ITU, “KARENA KEADILAN YANG SESUNGGUHNYA ADALAH LAHIR DARI PERDAMAIAN, BUKAN BERDASARKAN PUTUSAN HAKIM HUKUM DUNIA INI”.

“HAKIM HUKUM DUNIA INI TIDAK DAPAT MEMUTUSKAN KEADILAN YANG PALING HAKIKI, HAKIM DI DUNIA INI HANYA DAPAT MENULISKAN DAN MEMBUATNYA DALAM PUTUSAN” Itu sebabnya ketika tidak ditemukan rasa adil dalam putusan hakim terutama setelah tidak ditemukan kata sepakat dalam proses mediasi, … tidak perlu terlalu kecewa.

Pesan moralnya ialah bahwa “Semua langkah damai dalam menangani suatu perkara dibidang hukum_efeknya tidak akan lebih rendah kedepannya, meskipun nilainya saat damai lebih kecil dari yang seharusnya; Itu sebabnya dalam proses pengadilan selalu langkah damai menjadi langkah awal yang difasilitasi Pengadilan, bahkan putusan akan batal tanpa melalui proses mediasi. Mengapa demikian ? KARENA DAMAI MEMPERSATUKAN DUA INSAN DAN TIDAK ADA YANG DISEBUT PIHAK YANG KALAH, DI DALAM DAMAI TIDAK DITEMUKAN PIHAK YANG SALAH.

“KARENA KEADILAN YANG SESUNGGUHNYA ADALAH LAHIR DARI PERDAMAIAN, BUKAN BERDASARKAN PUTUSAN HAKIM HUKUM DUNIA INI”. “HAKIM HUKUM DUNIA INI TIDAK DAPAT MEMUTUSKAN KEADILAN YANG PALING HAKIKI, HAKIM DI DUNIA INI HANYA DAPAT MENULISKANNYA, MENULISKAN RASA ADIL DARI KESEPAKATAN PARA PIHAK, DAN MEMBUATNYA DALAM PUTUSAN.” (Penulis: David Sihombing, Advokat/Pengacara/Praktisi Hukum).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here