Narasumber Jadi Tersangka

0
10

BERITAINDONET.COM, Bandarlampung : Pengamat Hukum Universitas Lampung Budiono menilai gugatan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bandar Lampung terhadap pengacara Amrullah karena menjadi narasumber berita tidak tepat.  Karena menjadi narasumber yang sifatnya benar tidak bisa di jerat pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Menurut Budiono, Amrullah dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang berbunyi melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. “Ketika menjadi narasumber dan sifatnya benar maka tidak bisa dijerat dengan UU ITE pasal 27 ayat 3 UU ITE,” kata dia, Jumat 5 November 2021.

Menurut Budiono, jika pendapat Amrullah dibuat sendiri dan diunggah di media sosialnya sendiri, baru bisa dijerat UU ITE. Namun, jika yang dipersoalkan adalah pemberitaan, maka penyelesaiannya menggunakan UU Pers dan melalui mekanisme pers. “Seharusnya dibantah dulu di media, jika sudah ada hak jawab harusnya clear, bukan UU ITE. Harus melalui mekanisme pers dulu,” ujar Budiono.

Sebelumnya, JPU Kejaksaan Negeri Bandar Lampung I Wayan Suardi menuntut Pengacara Amrullah 5 bulan penjara dan percobaan 6 bulan dalam sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa 2 November 2021.

Jaksa menjerat Amrullah dengan Pasal 27 ayat (3), juncto Pasal 45 ayat (3), UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU nomor 11 Tahun 2008, tentang ITE. Amrullah saat kejadian merupakan Kuasa Hukum Rice Megawati, istri almarhum Satono (DPO korupsi Lampung Timur).

Amrullah didakwa telah melakukan tindakan yang menimbulkan kegaduhan, melalui ucapannya di sebuah berita media online Lampung, yang menyoal permasalahan lahan pada pantai Queen Artha, di Kabupaten Pesawaran.

Berita yang menjadi konsumsi publik tersebut ditulis dengan judul “Hindari Lelang Hingga Hanya Setor 10 Milyar, Jual Beli Aset Alay Pantai Queen Artha Senilai 88 Miliar Diminta Diusut” yang diunggah pada 8 September 2020.

Berita itu menyebutkan beberapa nama dari berbagai instansi, yakni Andrie W Setiawan Jaksa Kejaksaan Tinggi Lampung, Donny Leimena selaku Pembeli objek sita Queen Artha, Andrianto selaku Notaris dan PPAT, dan Puntjak Indra selaku penjual asset.

Selain membuat kegaduhan lewat media online, Amrullah didakwa membuat keributan dan kegaduhan di lokasi pantai queen artha dengan memasang spanduk sehingga terjadi keributan dan keresahan terhadap karyawan karyawan Donny Leimena yang bekerja di lokasi pantai queen artha SHM 13 dan 14. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here