Sidang Eksepsi Terdakwa Advokat David Sihombing (Jilid IIV)

0
28

BERITAINDONET.COM, Lampung: Sidang lanjutan perkara sengketa tanah kembali digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Agenda kali ini merupakan Eksepsi dari Kuasa Hukum Para Terdakwa. Sidang dipimpin hakim Fitri dengan dua orang anggota hakim lainnya. Pembacaan eksepsi berlangsung secara online.

Eksepsi atau keberatan atas dakwaan yang diserahkan Tim Kuasa Hukum ke Majelis Hakim, menerangkan ada kekaburan dalam penyebutan lokasi spesifik, diubgkap, belum jelasnya jalan apa yang dimaksud membuat dakwaan Jaksa tidak cermat dan tidak jelas karena tidak ada dalam kenyataan lokasi yang disebut jalur semua kendaraan dari Pesawaran ke Tanjungkarang, sehingga dakwaan jaksa penuntut umum harus dinyatakan batal demi hukum.

Pada lanjutan tulisan eksepsi tersebut, Tim Pengacara membacakan pertanyaan vital dari kasus perkara penurunan batu yang di anggap menganggu ketertiban lalulintas seperti kemana diarahkan atau ke jalan mana diarahkan jika memang ada pengalihan jalan ? Karena dalam dakwaan tidak tertera nama jalan yang dialihkan ke jalan apa, termasuk dalam dakwaan tidak dapat dipahami nama jalan umum yang ditutup dan pengalihannya ke jalan apa dan nama jalannya apa.

“Terdapat kontraversi dalam dakwaan, yaitu di satu sisi mengatakan dalam lembar ke-2 baris 27 dan baris 28 dakwaan mengatakan “….. Semua kendaraan dari arah pesawaran yang akan menuju tanjungkarang melalui jalan tersebut….” Dan di sisi lain “…. Petugas lalu lintas mengalihkan dan mengarahkan pengguna jalan dari arah kabupaten pesawaran yang akan menuju tanjungkarang ….” Bahwa sebenarnya apakah ada jalan lain selain menuju tkp batu itu? Jika ada mengapa disebut “semua kendaraan dari arah Pesawaran menuju Tanjungkarang melalui jalan/TKP tersebut “ dalam dakwaan ? Hal ini membuat dakwaan sangat bias dan sulit dipahami, dan oleh karena itu dakwaan jaksa tidak jelas dan harus dinyatakan batal demi hukum?” diungkap dalam eksepsi yang diserahkan secara tertulis kepada Majelis Hakim, Kamis (8/4/2021).

Dari hasil pantauan lapangan beritaindonet.com, di TKP (tempat kejadian perkara) penurunan batu adanya klaim Subroto bahwa dirinya telah menang di Pengadilan dan Pengadilan menyatakan sah tanah miliknya. Sehingga Subroto berniat mau akan menurunkan batu di tanah yang dianggap milik pribadi. Dan berdasarkan informasi yang dihimpun, jalan Umum Imam Bonjol telah terbuka sebelum turun bongkahan bongkahan batu. Lalu lintas pun terlihat lancar di Jalan Iamam Bonjol Kemiling, namun setelah Jalan Imam Bonjol berfungsi dengan baik dan lancar, kemudian ada Pihak yang diduga dari Pihak Dishub Kota Bandar Lampung, yang menutup kembali Jalan Protokol Jalan Umum Imam Bonjol, yang membuat terjadi macet.

Akan tetapi, kasus ini masih kontraversi dari kedua belah pihak bersengketa. Pihak Pelapor mengatakan TKP sebagai jalan Terminal Kemiling, di lain sisi Pihak Subroto mengatakan apakah ada jalan umum dalam Terminal yang dianggap  jalan raya, jika ada jalan di dalam terminal, terminalnya dipertanyakan lagi dimana letaknya, termasuk bagian kanan kiri jalan dan lebar jalan di pertanyakan ada di sebelah mana.

Dalam kasus ini, Subroto merupakan Terlapor I, dan Kuasa Hukumnya sebagai Terlapor II atau Terdakwa II. Sidang dilanjutkan, Kamis (15/4/2021) dengan agenda pembacaan putusan sela untuk menentukan apakah kasus ini layak dilanjutkan ke agenda pembuktian pada sidang pokok perkara (Parulian S/R.1.1).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here